SUNAN AN-NASAI
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Berkata asy-syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullahu :
3_ سُنَنُ النَّسَائِيِّ:
Sunan An-Nasai.
أَلَّفَ النَّسَائِيُّ رَحِمَهُ اللهُ كِتَابَهُ "السُّنَنَ الكُبْرَى"
وَضِمْنُهُ الصَّحِيْحُ وَالْمَعْلُوْلُ، ثُمَّ اخْتَصَرَهُ فِيْ كِتَابِ
"السُّنَنُ الصُّغْرَى"، وَسَمَّاهُ "الْمُجْتَبَى"، جَمَعَ فِيْهِ
الصَّحِيْحَ عِنْدَهُ، وَهُوَ الْمَقْصُوْدُ بِمَا يُنْسَبُ إِلَى رِوَايَةِ النَّسَائِيِّ
مِنْ حَدِيْثٍ.
Imam
An-Nasai rahimahullahu menyusun karya beliau "As-Sunan
Al-Kubra", terkandung padanya hadits yang shahih dan hadits yang cacat.
Kemudian beliau meringkas kitab tersebut pada kitab "As-Sunan
Ash-Shughra", dan beliau menamainya "Al-Mujtaba". Beliau
mengumpulkan hadits yang shahih disisinya (baca: menurut beliau). Dan itulah
yang dimaksud dengan sesuatu yang dinisbahkan kepada riwayat An-Nasai berupa
hadits.
Yakni: apabila
terdapat sebuah hadits dikatakan sebagai riwayat An-Nasai, tanpa menyebutkan
dalam "As-Sunan Al-Kubra", maka yang dimaksud adalah riwayat An-Nasai
dalam "As-Sunan Ash-Shughra" alias "Al-Mujtaba". (Pent)
وَ"المُجْتَبَى" أَقَلُّ السُّنَنِ حَدِيْثاً ضَعِيْفاً وَرَجُلاً
مَجْرُوْحاً، وَدَرَجَتُهُ بَعْدَ "الصَّحِيْحَيْنِ"، فَهُوَ - مِنْ حَيْثُ
الرِّجَالِ - مُقَدَّمٌ عَلَى "سُنَنِ أَبِيْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيِّ"؛
لِشِدَّةِ تَحَرِّي مُؤَلِّفِهِ فِيْ الرِّجَالِ.
Dan
"Al-Mujtaba" adalah sunan (kumpulan hadits) yang paling sedikit
hadits dha'ifnya dan paling sedikit perawinya yang majruh (di-jarh). Dan
kedudukan "Al-Mujtaba" berada setelah Shahihain. Dan ia -dari sisi
para perawinya- lebih didahulukan dari Sunan Abu Dawud dan Sunan At-Tirmidzi;
dikarenakan ketatnya penyelidikan imam An-Nasai
rahimahullah terhadap para perawinya.
قَالَ الْحَافِظُ ابْنُ حَجَرَ رَحِمَهُ اللهُ: كَمْ مِنْ رَجُلٍ أَخْرَجَ
لَهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ تَجَنَّبَ النَّسَائِيُّ إِخْرَاجَ حَدِيْثِهِ،
بَلْ تَجَنَّبَ إِخْرَاجَ حَدِيْثِ جَمَاعَةٍ فِيْ "الصَّحِيْحَيْنِ".
اهـ.
Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah: betapa banyak
perawi yang dikeluarkan oleh imam Abu Dawud
dan imam At-Tirmidzi, akan tetapi imam An-Nasai menjauhkan diri dari
mengeluarkan haditsnya. Bahkan, beliau juga menjauhkan diri dari mengeluarkan
hadits sekelompok perawi dalam Shahihain, rahimahumullahu. (Selesai)
















