Translate

Selasa, 17 November 2015

9). Al-Isnad.




(Bagian Kedua)

PERTEMUAN : KE-SEMBILAN
BUKU : MUSTHALAH AL-HADITS
KARYA : IBNU ‘UTSAIMIN RAHIMAHULLAH
____________

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

"AL-ISNAD"

Berkata Asy-Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah :

الإِسْنَادُ:
أ_ تَعْرِيْفُهُ، ب_ أَقْسَامُهُ، ج_ أَصَحُّ الْأَسَانِيْدِ.

Al-Isnad.
A). Definisi Al-Isnad. B). Pembagian Al-Isnad. C). Sanad Tershahih.

*****

A). Definisi Al-Isnad.

أ_ الْإِسْنَادُ، وَيُقَالُ: السَّنَدُ : رُوَاةُ الْحَدِيْثِ الَّذِيْنَ نَقَلُوْهُ إِلَيْنَا.

Al-Isnad dinamakan juga As-Sanad. Ia adalah: para perawi hadits yang menukilkannya kepada kita.

مِثَالُهُ : قَوْلُ الْبُخَارِيِّ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ يُوْسُفَ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "لَا تَبَاغَضُوْا، وَلَا تَحَاسَدُوْا، وَلَا تَدَابَرُوْا، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً، وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ".

Contohnya adalah perkataan Imamul Bukhari rahimahullah :

"Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah Ibnu Yusuf, telah mengkhabarkan kepada kami Malik, dari Ibnu Syihab, dari Anas Ibnu Malik radhiallahu 'anhu, sesungguhnya Rasul Allah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"لَا تَبَاغَضُوْا، وَلَا تَحَاسَدُوْا، وَلَا تَدَابَرُوْا، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً، وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ"

"Janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah kalian saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim untuk mendiamkan saudaranya di atas tiga malam."

Sabtu, 14 November 2015

8). At-Tabi'i.



(Bagian Kedua)

PERTEMUAN : KE-DELAPAN
BUKU : MUSTHALAH AL-HADITS
KARYA : IBNU ‘UTSAIMIN RAHIMAHULLAH
____________

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

"AT-TABI'I"

Berkata Asy-Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah :

التَّابِعِيُّ.
أ_ التَّابِعِيُّ: مَنِ اجْتَمَعَ بِالصَّحَابِيِّ مُؤْمِناً بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَاتَ عَلَى ذَلِكَ

At-Tabi'i.
A). At-Tabi'i yaitu : siapa saja yang berjumpa dengan Shahabat, beriman kepada nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan meninggal di atas hal tersebut.

ب_ وَالتَّابِعُوْنَ كَثِيْرُوْنَ لَا يُمْكِنُ حَصْرُهُمْ، وَهُمْ ثَلَاثُ طَبَقَاتٍ: كُبْرَى وَصُغْرَى وَبَيْنَهُمَا

B). Dan jumlah para Tabi'in sangat banyak. Tidak mungkin membatasi bilangan mereka. Mereka terbagi dalam 3 (tiga) Thabaqat (tingkatan): Kubra, sughra, dan di antara keduanya (yakni: Wustha _pent).

Selasa, 10 November 2015

7). Al-Mukhadhram.



(Bagian Kedua)

PERTEMUAN : KE-TUJUH
BUKU : MUSTHALAH AL-HADITS
KARYA : IBNU ‘UTSAIMIN RAHIMAHULLAH
____________
                          
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

"AL-MUKHADHRAM"

Berkata Asy-Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah :

الْمُخَضْرَمُ
أ_ تَعْرِيْفُهُ، ب_ حُكْمُ حَدِيْثِهِ.

Al-Mukhadhram.
A). Definisi Al-Mukhadhram. B). Hukum Hadits Al-Mukhadhram.

*****

A). Definisi Al-Mukhadhram.

أ_ الْمُخَضْرَمُ :
مَنْ آمَنَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ حَيَاتِهِ، وَلَمْ يَجْتَمِعْ بِهِ

Al-Mukhadhram yaitu :
Siapa saja yang beriman kepada nabi shallallahu 'alaihi wasallam semasa hidup beliau dan tidak berjumpa dengan beliau shallallahu 'alaihi wasallam.

وَالْمُخَضْرَمُوْنَ طَبَقَةٌ مُسْتَقِلِّةٌ بَيْنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَقِيْلَ: بَلْ هُمْ مِنْ كِبَارِ التَّابِعِيْنَ

Para Mukhadhram berada pada Thabaqat (tingkatan) tersendiri. Antara para Shahabat dan para Tabi'in. Dan ada juga yang mengatakan: bahkan para Mukhadhram termasuk dalam Thabaqat Kibar Tabi'in.

Sabtu, 07 November 2015

6). Shahabat Nabi Yang Banyak Meriwayatkan Hadits.



(Bagian Kedua)

PERTEMUAN : KE-ENAM
BUKU : MUSTHALAH AL-HADITS
KARYA : IBNU ‘UTSAIMIN RAHIMAHULLAH
____________
                          
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

"SHAHABAT NABI YANG BANYAK MERIWAYATKAN HADITS"


Berkata Asy-Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah :

د_ الْمُكْثِرُوْنَ مِنَ التَّحْدِيْثِ

D). Shahabat nabi yang banyak meriwayatkan hadits.

مِنَ الصَّحَابَةِ مَنْ أَكْثَرُوْا التَّحْدِيْثَ فَكَثُرَ الْأَخْذُ عَنْهُمْ، وَالَّذِيْنَ تَجَاوَزَ الْحَدِيْثُ عَنْهُمُ الْأَلْفَ هُمْ :

Di antara shahabat nabi yang banyak menyampaikan hadits, dan banyak pengambilan dari mereka, dan yang haditsnya melebihi seribu, mereka adalah :

Selasa, 03 November 2015

5). Shahabat Nabi Yang Paling Terakhir Wafat.



(Bagian Kedua)

PERTEMUAN : KE-LIMA
BUKU : MUSTHALAH AL-HADITS
KARYA : IBNU ‘UTSAIMIN RAHIMAHULLAH
____________
                          
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

"SHAHABAT YANG PALING TERAKHIR WAFAT & FAIDAH MENGETAHUINYA"

Berkata Asy-Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah :

ج_ وَآخِرُ الصَّحَابَةِ مَوْتاً عَلَى الإِطْلَاقِ

C). Shahabat Nabi Yang Paling Terakhir Wafat Secara Muthlaq.



عَامِرٌ بْنُ وَاثِلَةٍ اللَّيْثِيِّ مَاتَ بِمَكَّةَ سَنَةَ 110 مِنَ الْهِجْرَةِ، فَهُوَ آخِرُ مَنْ مَاتَ بِمَكَّةَ

'Amir Ibnu Watsilah Al-Laitsi radhiallahu 'anhu, beliau wafat di Makkah pada tahun 110 (seratus sepuluh) hijrah nabawiyah. Beliau adalah shahabat nabi yang paling terakhir wafat di Makkah.

وَآخِرُ مَنْ مَاتَ بِالْمَدِيْنَةِ: مَحْمُوْدٌ بْنُ الرَّبِيْعِ الْأَنْصَارِيِّ الْخَزْرَجِيِّ مَاتَ سَنَةَ 99هـ

Dan shahabat nabi yang paling terakhir wafat di Madinah adalah: Mahmud Ibnu Rabi' Al-Anshari Al-Khazraji radhiallahu 'anhu. Beliau wafat pada tahun 99 (sembilan puluh sembilan) hijrah nabawiyah.

Minggu, 01 November 2015

4). Shahabat Nabi.



(Bagian Kedua)

PERTEMUAN : KE-EMPAT
BUKU : MUSTHALAH AL-HADITS
KARYA : IBNU ‘UTSAIMIN RAHIMAHULLAH
____________

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

"SHAHABAT NABI"

Berkata Asy-Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah :

الصَّحَابِيُّ
أ_ تَعْرِيْفُ الصَّحَابِيِّ، بَ_ حَالُ الصَّحَابَةِ، ج_ آخِرُهُمْ مَوْتاً وَفَائِدَةُ مَعْرِفَتِهِ، د_ المُكْثِرُوْنَ مِنَ التَّحْدِيْثِ

(Pembahasan seputar) Shahabat Nabi (yang mencakup) :

A). Definisi Shahabat Nabi.
B). Keadaan Shahabat Nabi.
C). Shahabat Nabi Yang Paling Terakhir Wafat & Faidah Mengetahuinya.
D). Para Shahabat Yang Banyak Meriwayatkan Hadits.

Dari 4 (empat) poin besar tersebut di atas, yang akan kita kaji bersama pada pertemuan kali adalah poin A dan poin B, insya Allah.

*****

A). Definisi Shahabat Nabi.

أ_ الصَّحَابِيُّ
مَنِ اجْتَمَعَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَوْ رَآهُ مُؤْمِناً بِهِ، وَمَاتَ عَلَى ذَلِكَ

Shahabat Nabi adalah :
Siapa saja yang berjumpa nabi shallallahu 'alaihi wasallam atau melihatnya dalam keadaan beriman kepadanya dan meninggal di atas hal tersebut.

Rabu, 28 Oktober 2015

3). Al-Mauquf & Al-Maqthu'.



(Bagian Kedua)

PERTEMUAN : KETIGA
BUKU : MUSTHALAH AL-HADITS
KARYA : IBNU ‘UTSAIMIN RAHIMAHULLAH
____________

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

"AL-MAUQUF & AL-MAQTHU'"

Berkata Asy-Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah :

ب_ وَالْمَوْقُوْفُ
مَا أُضِيْفَ إِلَى الصَّحَابِيِّ، وَلَمْ يَثْبُتْ لَهُ حُكْمُ الرَّفْعِ

Al-Mauquf yaitu :
Sesuatu yang disandarkan kepada shahabat dan tidak memiliki ketetapan hukum Marfu'.

مِثَالُهُ : قَوْلُ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: يُهَدِّمُ الْإِسْلَامَ زَلَّةُ الْعَالِمِ وَجِدَالُ الْمُنَافِقِ بِالْكِتَابِ، وَحُكْمُ الْأَئِمَّةِ الْمُضِلِّيْنَ

Contohnya adalah :
Ucapan Umar Ibnul Khaththab radhiallahu 'anhu : "Akan merobohkan islam: tergelincirnya seorang 'alim; perdebatan orang munafiq dengan Al-Kitab; dan hukum para imam yang menyesatkan".

Tambahan Faidah (pent) :
Atsar ini disebutkan oleh imam Muhammad Ibnu 'Abdir Rahman As-Sakhawi rahimahullah dalam kitab beliau "Al-Maqasidul Hasanah Fi Bayani Katsirin Minal Ahaditsil Musytaharah 'Alal Alsunah" pada jilid pertama, halaman: 58, cet: Darul Kitab Al-'Arabi.

Minggu, 25 Oktober 2015

2). Marfu' Hukmi.



(BAGIAN KEDUA)

PERTEMUAN : KEDUA
BUKU : MUSTHALAH AL-HADITS
KARYA : IBNU ‘UTSAIMIN RAHIMAHULLAH
____________


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ


"MARFU' HUKMI"

Telah berlalu pada pertemuan sebelumnya masail seputar Marfu' Sharih. Kemudian uraian kita pada kali ini adalah masail seputar Marfu' Hukmi, insya Allah.

Berkata asy-syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah :

2_ وَالْمَرْفُوْعُ حُكْماً: مَا كَانَ لَهُ حُكْمُ الْمُضَافِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ أَنْوَاعٌ

Marfu' Hukmi yaitu :
Sesuatu yang memiliki hukum mudhaf (disandarkan) kepada nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Dan hal ini (yakni Marfu' hukmi) ada beberapa bentuk :

الأَوَّلُ - قَوْلُ الصَّحَابِيِّ إِذَا لَمْ يُمْكِنْ أَنْ يَكُوْنَ مِنْ قَبِيْلِ الرَّأْيِ وَلَمْ يَكُنْ تَفْسِيْراً، وَلَا مَعْرُوْفاً قَائِلُهُ بِالْأَخْذِ عَنِ الْإِسْرَائِيْلِيَاتِ، مِثْلُ أَنْ يَكُوْنَ خَبَراً عَن أَشْرَاطِ السَّاعَةِ، أَوْ أَحْوَالِ الْقِيَامَةِ، أَوِ الْجَزَاءِ.

Pertama.
Ucapan shahabat apabila tidak mengandung kemungkinan berasal dari pendapatnya. Dan bukan sebagai tafsir. Dan pengucapnya bukan seorang yang ma'ruf mengambil dari israiliyat (berita-berita bani israil _pent). (Hal in adalah _pent) seperti: khabar tentang tanda-tanda hari kiamat. Atau tentang keadaan-keadaan hari kiamat. Atau tentang pembalasan.

Selasa, 20 Oktober 2015

1). Marfu' Sharih.



(BAGIAN KEDUA)

PERTEMUAN : PERTAMA
BUKU : MUSTHALAH AL-HADITS
KARYA : IBNU ‘UTSAIMIN RAHIMAHULLAH
____________

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

"MARFU' SHARIH"

Sahabat fillah yang Allah mulyakan…
Adalah merupakan nikmat dan taufiq dari Allah sematalah kita dapat menyelesaikan bagian pertama buku yang kita pelajari bersama ini dengan segala kemudahannya. Bi idznillah walhamdulillah.

Di saat manusia di luar sana, muda dan mudi, atau yang semisal mereka, menghabiskan waktu dan menggunakan media online ini untuk sesuatu yang sedikit sekali manfaat dan faidahnya, atau bahkan terkadang sebagian mereka menggunakannya untuk sesuatu yang sia-sia. Bahkan untuk sesuatu yang mengundang fitnah, maksiat, dan dosa wal'iyadzubillah.

Namun di sisi yang lain, Allah menjadikan kita memanfaatkan media ini untuk sesuatu yang sangat bermanfaat insya Allah. Maka ini adalah merupakan suatu nikmat yang sangat layak kita syukuri.

Sudah selayaknya dan merupakan suatu keharusan bagi kita, untuk bersyukur kepada-Nya dan terus menjaga nikmat ini dengan bentuk semakin meningkatkan dan megerahkan segenap kemampuan kita, untuk terus meraih tingkatan kenikmatan selanjutnya. Sungguh tidak ada yang lebih nikmat dan tidak ada yang lebih indah di dunia ini selain dari mempelajari ilmu agama-Nya.

Betapa merugi jiwa-jiwa yang haus dengan kebenaran dan haus dengan ilmu syar'i, namun berada pada taraf keengganan yang akut terhadap ilmu-ilmu yang jauh lebih bermanfaat baginya. Bahkan tak jarang kita dapati, justru ia lebih bangga dan berlapang dada dengan meneguk dan menenggelamkan diri ke dalam api fitnah di tengah kehausannya terhadap air sebagai pemadamnya.

Apabila kita bisa konsisten dengan memiliki kegiatan yang bernilai positif dan jauh lebih bermanfaat, anggap saja apabila kita memiliki dua atau tiga kegiatan pelajaran dalam sehari bagi seorang santri -misalkan-.

Dimana tiga kegiatannya membutuhkan waktu tiga jam dalam seharinya untuk kegiatan belajar tersebut, yang bersifat bertatap muka langsung dengan sang guru atau sang ustadz. Satu jam untuk menambah hafalan al-qur'annya.  Satu jam untuk belajar bahasa arabnya. Dan satu jam terakhir untuk mempelajari aqidah atau pelajaran yang lainnya.

Kemudian ia berfokus dengan banyak mengulang dan membaca serta mentelaah juga memahami kembali apa yang ia pelajari. Maka merupakan sebuah keniscayaan, ia tidak akan mendapati dirinya memiliki waktu luang untuk melirik, terlebih menenggelamkan dirinya ke dalam api fitnah atau ke dalam perkara yang sia-sia yang tidak bermanfaat dan tidak pula bernilai pahala baginya.

Apabila ia menghabiskan waktunya untuk tiga kegiatan tersebut dengan terus berdoa dan berusaha untu kontinyu dan konsisten. Niscaya ia juga akan merasakan bahwa 24 jam dalam sehari adalah waktu yang sangat sempit lagi sedikit. Sungguh indah andai kita demikian keadaannya.
Mubaarok Al-Atsary. Diberdayakan oleh Blogger.