Translate

Selasa, 03 November 2015

5). Shahabat Nabi Yang Paling Terakhir Wafat.



(Bagian Kedua)

PERTEMUAN : KE-LIMA
BUKU : MUSTHALAH AL-HADITS
KARYA : IBNU ‘UTSAIMIN RAHIMAHULLAH
____________
                          
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

"SHAHABAT YANG PALING TERAKHIR WAFAT & FAIDAH MENGETAHUINYA"

Berkata Asy-Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah :

ج_ وَآخِرُ الصَّحَابَةِ مَوْتاً عَلَى الإِطْلَاقِ

C). Shahabat Nabi Yang Paling Terakhir Wafat Secara Muthlaq.



عَامِرٌ بْنُ وَاثِلَةٍ اللَّيْثِيِّ مَاتَ بِمَكَّةَ سَنَةَ 110 مِنَ الْهِجْرَةِ، فَهُوَ آخِرُ مَنْ مَاتَ بِمَكَّةَ

'Amir Ibnu Watsilah Al-Laitsi radhiallahu 'anhu, beliau wafat di Makkah pada tahun 110 (seratus sepuluh) hijrah nabawiyah. Beliau adalah shahabat nabi yang paling terakhir wafat di Makkah.

وَآخِرُ مَنْ مَاتَ بِالْمَدِيْنَةِ: مَحْمُوْدٌ بْنُ الرَّبِيْعِ الْأَنْصَارِيِّ الْخَزْرَجِيِّ مَاتَ سَنَةَ 99هـ

Dan shahabat nabi yang paling terakhir wafat di Madinah adalah: Mahmud Ibnu Rabi' Al-Anshari Al-Khazraji radhiallahu 'anhu. Beliau wafat pada tahun 99 (sembilan puluh sembilan) hijrah nabawiyah.

Minggu, 01 November 2015

4). Shahabat Nabi.



(Bagian Kedua)

PERTEMUAN : KE-EMPAT
BUKU : MUSTHALAH AL-HADITS
KARYA : IBNU ‘UTSAIMIN RAHIMAHULLAH
____________

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

"SHAHABAT NABI"

Berkata Asy-Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah :

الصَّحَابِيُّ
أ_ تَعْرِيْفُ الصَّحَابِيِّ، بَ_ حَالُ الصَّحَابَةِ، ج_ آخِرُهُمْ مَوْتاً وَفَائِدَةُ مَعْرِفَتِهِ، د_ المُكْثِرُوْنَ مِنَ التَّحْدِيْثِ

(Pembahasan seputar) Shahabat Nabi (yang mencakup) :

A). Definisi Shahabat Nabi.
B). Keadaan Shahabat Nabi.
C). Shahabat Nabi Yang Paling Terakhir Wafat & Faidah Mengetahuinya.
D). Para Shahabat Yang Banyak Meriwayatkan Hadits.

Dari 4 (empat) poin besar tersebut di atas, yang akan kita kaji bersama pada pertemuan kali adalah poin A dan poin B, insya Allah.

*****

A). Definisi Shahabat Nabi.

أ_ الصَّحَابِيُّ
مَنِ اجْتَمَعَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَوْ رَآهُ مُؤْمِناً بِهِ، وَمَاتَ عَلَى ذَلِكَ

Shahabat Nabi adalah :
Siapa saja yang berjumpa nabi shallallahu 'alaihi wasallam atau melihatnya dalam keadaan beriman kepadanya dan meninggal di atas hal tersebut.

Rabu, 28 Oktober 2015

3). Al-Mauquf & Al-Maqthu'.



(Bagian Kedua)

PERTEMUAN : KETIGA
BUKU : MUSTHALAH AL-HADITS
KARYA : IBNU ‘UTSAIMIN RAHIMAHULLAH
____________

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

"AL-MAUQUF & AL-MAQTHU'"

Berkata Asy-Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah :

ب_ وَالْمَوْقُوْفُ
مَا أُضِيْفَ إِلَى الصَّحَابِيِّ، وَلَمْ يَثْبُتْ لَهُ حُكْمُ الرَّفْعِ

Al-Mauquf yaitu :
Sesuatu yang disandarkan kepada shahabat dan tidak memiliki ketetapan hukum Marfu'.

مِثَالُهُ : قَوْلُ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: يُهَدِّمُ الْإِسْلَامَ زَلَّةُ الْعَالِمِ وَجِدَالُ الْمُنَافِقِ بِالْكِتَابِ، وَحُكْمُ الْأَئِمَّةِ الْمُضِلِّيْنَ

Contohnya adalah :
Ucapan Umar Ibnul Khaththab radhiallahu 'anhu : "Akan merobohkan islam: tergelincirnya seorang 'alim; perdebatan orang munafiq dengan Al-Kitab; dan hukum para imam yang menyesatkan".

Tambahan Faidah (pent) :
Atsar ini disebutkan oleh imam Muhammad Ibnu 'Abdir Rahman As-Sakhawi rahimahullah dalam kitab beliau "Al-Maqasidul Hasanah Fi Bayani Katsirin Minal Ahaditsil Musytaharah 'Alal Alsunah" pada jilid pertama, halaman: 58, cet: Darul Kitab Al-'Arabi.

Minggu, 25 Oktober 2015

2). Marfu' Hukmi.



(BAGIAN KEDUA)

PERTEMUAN : KEDUA
BUKU : MUSTHALAH AL-HADITS
KARYA : IBNU ‘UTSAIMIN RAHIMAHULLAH
____________


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ


"MARFU' HUKMI"

Telah berlalu pada pertemuan sebelumnya masail seputar Marfu' Sharih. Kemudian uraian kita pada kali ini adalah masail seputar Marfu' Hukmi, insya Allah.

Berkata asy-syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah :

2_ وَالْمَرْفُوْعُ حُكْماً: مَا كَانَ لَهُ حُكْمُ الْمُضَافِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ أَنْوَاعٌ

Marfu' Hukmi yaitu :
Sesuatu yang memiliki hukum mudhaf (disandarkan) kepada nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Dan hal ini (yakni Marfu' hukmi) ada beberapa bentuk :

الأَوَّلُ - قَوْلُ الصَّحَابِيِّ إِذَا لَمْ يُمْكِنْ أَنْ يَكُوْنَ مِنْ قَبِيْلِ الرَّأْيِ وَلَمْ يَكُنْ تَفْسِيْراً، وَلَا مَعْرُوْفاً قَائِلُهُ بِالْأَخْذِ عَنِ الْإِسْرَائِيْلِيَاتِ، مِثْلُ أَنْ يَكُوْنَ خَبَراً عَن أَشْرَاطِ السَّاعَةِ، أَوْ أَحْوَالِ الْقِيَامَةِ، أَوِ الْجَزَاءِ.

Pertama.
Ucapan shahabat apabila tidak mengandung kemungkinan berasal dari pendapatnya. Dan bukan sebagai tafsir. Dan pengucapnya bukan seorang yang ma'ruf mengambil dari israiliyat (berita-berita bani israil _pent). (Hal in adalah _pent) seperti: khabar tentang tanda-tanda hari kiamat. Atau tentang keadaan-keadaan hari kiamat. Atau tentang pembalasan.

Selasa, 20 Oktober 2015

1). Marfu' Sharih.



(BAGIAN KEDUA)

PERTEMUAN : PERTAMA
BUKU : MUSTHALAH AL-HADITS
KARYA : IBNU ‘UTSAIMIN RAHIMAHULLAH
____________

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

"MARFU' SHARIH"

Sahabat fillah yang Allah mulyakan…
Adalah merupakan nikmat dan taufiq dari Allah sematalah kita dapat menyelesaikan bagian pertama buku yang kita pelajari bersama ini dengan segala kemudahannya. Bi idznillah walhamdulillah.

Di saat manusia di luar sana, muda dan mudi, atau yang semisal mereka, menghabiskan waktu dan menggunakan media online ini untuk sesuatu yang sedikit sekali manfaat dan faidahnya, atau bahkan terkadang sebagian mereka menggunakannya untuk sesuatu yang sia-sia. Bahkan untuk sesuatu yang mengundang fitnah, maksiat, dan dosa wal'iyadzubillah.

Namun di sisi yang lain, Allah menjadikan kita memanfaatkan media ini untuk sesuatu yang sangat bermanfaat insya Allah. Maka ini adalah merupakan suatu nikmat yang sangat layak kita syukuri.

Sudah selayaknya dan merupakan suatu keharusan bagi kita, untuk bersyukur kepada-Nya dan terus menjaga nikmat ini dengan bentuk semakin meningkatkan dan megerahkan segenap kemampuan kita, untuk terus meraih tingkatan kenikmatan selanjutnya. Sungguh tidak ada yang lebih nikmat dan tidak ada yang lebih indah di dunia ini selain dari mempelajari ilmu agama-Nya.

Betapa merugi jiwa-jiwa yang haus dengan kebenaran dan haus dengan ilmu syar'i, namun berada pada taraf keengganan yang akut terhadap ilmu-ilmu yang jauh lebih bermanfaat baginya. Bahkan tak jarang kita dapati, justru ia lebih bangga dan berlapang dada dengan meneguk dan menenggelamkan diri ke dalam api fitnah di tengah kehausannya terhadap air sebagai pemadamnya.

Apabila kita bisa konsisten dengan memiliki kegiatan yang bernilai positif dan jauh lebih bermanfaat, anggap saja apabila kita memiliki dua atau tiga kegiatan pelajaran dalam sehari bagi seorang santri -misalkan-.

Dimana tiga kegiatannya membutuhkan waktu tiga jam dalam seharinya untuk kegiatan belajar tersebut, yang bersifat bertatap muka langsung dengan sang guru atau sang ustadz. Satu jam untuk menambah hafalan al-qur'annya.  Satu jam untuk belajar bahasa arabnya. Dan satu jam terakhir untuk mempelajari aqidah atau pelajaran yang lainnya.

Kemudian ia berfokus dengan banyak mengulang dan membaca serta mentelaah juga memahami kembali apa yang ia pelajari. Maka merupakan sebuah keniscayaan, ia tidak akan mendapati dirinya memiliki waktu luang untuk melirik, terlebih menenggelamkan dirinya ke dalam api fitnah atau ke dalam perkara yang sia-sia yang tidak bermanfaat dan tidak pula bernilai pahala baginya.

Apabila ia menghabiskan waktunya untuk tiga kegiatan tersebut dengan terus berdoa dan berusaha untu kontinyu dan konsisten. Niscaya ia juga akan merasakan bahwa 24 jam dalam sehari adalah waktu yang sangat sempit lagi sedikit. Sungguh indah andai kita demikian keadaannya.

Rabu, 30 September 2015

28). Apabila Al-Jarh Dan At-Ta'dil Bertentangan.



PERTEMUAN : KE-DUA PULUH DELAPAN
BUKU : MUSTHALAH AL-HADITS
PENGARANG : IBNU 'UTSAIMIN RAHIMAHULLAH
__________

بِسْمِ اللهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيْمِ

"APABILA AL-JARH DAN AT-TA'DIL BERTENTANGAN"

Sahabat fillah…
Apabila kita mendapati seorang perawi yang perkaranya telah jelas dan gamblang bagi kita, bahwa sang perawi tersebut adalah seorang perawi yang terakui ketsiqahannya dan dikenal dengan ta'dil atau tautsiq para ulama terhadapnya, tentulah hal ini adalah sesuatu yang mudah bagi kita untuk mencari dan mentela'ahnya. Hal ini seperti keadaan para imam muhadditsin yang perkaranya sangat ma'ruf ditelinga kita bersama, semisal imam Malik, imam Bukhari, imam Muslim, imam Az-Zuhri, imam Ats-Tsauri dan yang semisal mereka. Allahu yarhamuhumul jami'.

Demikian sebaliknya, yakni apabila seorang perawi dikenal dengan jarh para ulama terhadapnya, atau ia adalah seorang perawi yang dikenal dengan kedha'ifannya, atau dikenal dengan memalsukan hadits atau sejenisnya, maka ini juga merupakan sesuatu yang mudah bagi kita untuk mentela'ahnya. Hal ini semisal Abdullah Ibnu Lahi'ah, Muhammad Ibnu Sa'ib Al-Kalbi, Al-Mughirah Ibnu Sa'id Al-Kufi, Muqatil Ibnu Sulaiman dan yang semisal mereka.

Minggu, 27 September 2015

27). Al-Jarh Dan At-Ta'dil (At-Ta'dil).



PERTEMUAN : KE - DUA PULUH TUJUH
BUKU : MUSTHALAH AL HADITS
PENGARANG : IBNU ‘UTSAIMIN RAHIMAHULLAH
___________

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

"AL-JARH DAN AT-TA'DIL (AT-TA'DIL)"

Jika pada pertemuan sebelumnya kita berfokus pada masail seputar Al-Jarh, adapun untuk hari ini, kita akan berfokus pada masail seputar At-Ta'dil insya Allah.

Berkata asy-syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah :

التَّعْدِيْلُ
أ_ تَعْرِيْفُهُ، ب_ أَقْسَامُهُ، ج_ مَرَاتِبُهُ، د_ شُرُوْطُ قَبُوْلِهِ

At-Ta'dil.
A). Definisi At-Ta'dil.
B). Pembagian At-Ta'dil. 
C). Jenjang At-Ta'dil.
D). Syarat-Syarat Diterimanya At-Ta'dil.

Selasa, 22 September 2015

26). Al-Jarh Dan At-Ta'dil (Al-Jarh).



PERTEMUAN : KE - DUA PULUH ENAM
BUKU : MUSTHALAH AL HADITS
PENGARANG : IBNU ‘UTSAIMIN RAHIMAHULLAH
___________

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

"AL-JARH DAN AT-TA'DIL (AL-JARH)"

Sahabat fillah…
Kaidah Al-Jarh dan At-Ta'dil dalam mabahis (pembahasan) seputar ilmu rijal (berkaitan dengan perawi) dalam ilmu Musthalah Al-Hadits adalah termasuk inti dan kategori terpenting dalam bidang tersebut. Karena dengan mengenal kaidah inilah, derajat ketsiqahan seorang perawi dalam sanad bisa terdeteksi. Dimana hal ini sangat erat kaitannya dengan shahih dan tidaknya suatu hadits. Dan masuk dalam ranah penjagaan kemurnian agama yang diwariskan oleh nabi shallallahu 'alaihi wasallam baik berupa ucapan, perbuatan, taqrir, maupun sifat beliau shallallahu 'alaihi wasallam.

Dan perlu juga untuk difahami serta dicermati dengan baik,  dahulu para muhadditsin (ahlul hadits), mereka bukanlah berjumlah sedikit. Jumlah mereka adalah bilangan yang sangat banyak. Namun bersamaan dengan itu, kita mendapati tidak semua para muhadditsin tersebut menjadi para ahli dalam bidang ini. Maka ini menunjukan, bahwa ranah ini adalah bukan ranah yang setiap dari kalangan ahlul hadits bisa berbicara dan turut berkecimpung didalamnya. Terlebih kalangan awwamnya.

Di sana, para ulama muhadditsin memberikan aturan-aturan, batasan-batasan, dan ketentuan-ketentuan yang sangat ketat dalam masalah ini. Hal tersebut adalah sesuatu yang sangat wajar, karena pada dasarnya ranah ini menyangkut harga diri dan kehormatan seorang muslim, yang apabila keliru dan tasahhul atau bermudah-mudah dalam hal ini, bisa mengarah kepada ghibah muharramah, mafsadah, dan kerusakan. Dan pada asalnya harga diri, kehormatan, harta, dan darah seorang muslim adalah terjaga, lebih mulya dari ka'bah kiblatul muslimin, dan lebih berharga dari dunia dan seisinya. Oleh karena di antara sebab inilah, tidak semua ahlul hadits berani berbicara dalam bidang ini.

Maka diterapkanlah kaidah-kaidah dan ketentuan tersebut, sebagaimana kita ketahui bersama dalam berbagai kitab-kitab para ahlul hadits yang berkenaan dengan masail Al-Jarh dan At-Ta'dil.

Minggu, 20 September 2015

25). Para Pemalsu Hadits.



PERTEMUAN : KE-DUA PULUH LIMA
BUKU : MUSTHALAH AL-HADITS
PENGARANG : IBNU 'UTSAIMIN RAHIMAHULLAH
__________

بِسْمِ اللهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيْمِ

"PARA PEMALSU HADITS"

E). Sejumlah Para Pembuat Hadits Maudhu'.

Berkata asy-syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah :

هـ_ وَالْوَضَّاعُوْنَ كَثِيْرُوْنَ وَمِنْ أَكَابِرِهِمُ المَشْهُوْرِيْنَ

Para pemalsu hadits sangat banyak jumlahnya, di antara para pembesar-pembesarnya yang masyhur adalah :

إِسْحَاقُ بْنُ نَجِيْحٍ الْمَلَطِيْ، وَمَأْمُوْنُ بْنُ أَحْمَدَ الْهَرَوِيْ، وَمُحَمَّدُ بْنُ السَّائِبِ الْكَلْبِيْ، وَالْمُغِيْرَةُ بْنُ سَعِيْدٍ الْكُوْفِيْ، وَمُقَاتِلُ بْنُ سُلَيْمَانَ، وَالْوَاقِدِيْ بْنُ أَبِيْ يَحْيَى

Ishaq Ibnu Najih Al-Malathi (bisa juga dibaca Al-Malthi _pent), Ma'mun Ibnu Ahmad Al-Harawi, Muhammad Ibnu Sa'ib Al-Kalbi, Al-Mughirah Ibnu Sa'id Al-Kufi, Muqatil Ibnu Sulaiman, dan Al-Waqidi Ibnu Abi Yahya.

وَهُمْ أَصْنَافٌ فَمِنْهُمْ

Dan mereka ada beberapa golongan; di antara mereka :

أَوَّلاً_ الزَّنَادِقَةُ الَّذِيْنَ يُرِيْدُوْنَ إِفْسَادَ عَقِيْدَةِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَتَشْوِيْهَ الْإِسْلَامِ، وَتَغْيِيْرَ أَحْكَامِهِ، مِثْلُ: مُحَمَّدٍ بْنِ سَعِيْدٍ الْمَصْلُوْبِ الَّذِيْ قَتَلَهُ أَبُوْ جَعْفَرَ الْمَنْصُوْرُ، وَضَعَ حَدِيْثاً عَنْ أَنَسٍ مَرْفُوْعاً: "أَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ لَا نَبِيَّ بَعْدِيْ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللهُ"

Pertama.
Orang-orang Zindiq yang ingin merusak keyakinan kaum muslimin, dan ingin memburukkan citra Islam, dan merubah hukum-hukumnya, seperti: Muhammad Ibnu Sa'id Al-Mashlub yang dibunuh oleh Abu Jakfar Al-Manshur. Ia memalsukan hadits dari Anas Ibnu Malik radhiallahu 'anhu secara marfu': "Saya adalah penutup para nabi, tidak ada nabi setelahku, terkecuali apabila Allah berkehendak".

Mubaarok Al-Atsary. Diberdayakan oleh Blogger.